psikologi krisis
bagaimana manusia mengambil keputusan di tengah situasi chaos
Pernahkah kita sedang asyik duduk di sebuah kafe, menyeruput kopi, lalu tiba-tiba alarm kebakaran berbunyi nyaring?
Coba bayangkan sejenak. Apa yang kira-kira akan kita lakukan?
Kalau kita sering menonton film Hollywood, jawabannya mungkin heroik atau dramatis. Kita mungkin membayangkan diri kita langsung melompat, memecahkan kaca darurat, atau setidaknya berlari panik sambil berteriak. Tapi tahukah teman-teman, statistik dan rekaman CCTV dari berbagai bencana di dunia menunjukkan hal yang jauh berbeda.
Alih-alih berlari, mayoritas dari kita justru akan diam. Kita akan menengok ke meja sebelah. Kita melihat apakah orang lain panik. Lalu, dengan sangat tenang, kita mungkin akan menghabiskan sisa kopi kita, membereskan laptop perlahan-lahan, dan berjalan keluar seolah tidak terjadi apa-apa.
Mengapa kita bertingkah begitu santai di saat nyawa kita mungkin sedang terancam? Jawabannya ternyata bersembunyi di dalam lipatan-lipatan otak kita sendiri. Mari kita bedah bersama-sama.
Untuk memahami keanehan ini, kita harus berkenalan dengan dua "karyawan" utama di dalam otak kita.
Karyawan pertama bernama prefrontal cortex. Dia ini ibarat seorang CEO yang cerdas, logis, dan pandai merencanakan masa depan. Dia yang membuat kita bisa menghitung anggaran bulanan atau memilih jurusan kuliah.
Karyawan kedua adalah amygdala. Dia adalah petugas keamanan purba yang tugasnya cuma satu: membunyikan alarm saat ada bahaya. Amygdala tidak peduli pada logika. Saat dia mendeteksi ancaman, dia akan membajak sistem otak kita dalam hitungan milidetik. Fenomena ini dalam sains disebut amygdala hijack.
Saat krisis terjadi, CEO kita ditendang keluar dari ruang kendali. Petugas keamanan purba mengambil alih dan memberi kita tiga pilihan insting dasar: fight (lawan), flight (kabur), atau freeze (diam mematung).
Masalahnya, insting purba ini berevolusi untuk menghadapi harimau bergigi pedang di padang sabana, bukan menghadapi runtuhnya pasar saham, gempa bumi di lantai 30, atau pandemi global. Jadi, ketika otak purba kita dihadapkan pada kekacauan modern yang terlalu kompleks, sistem kita sering mengalami semacam error.
Sekarang, mari kita lihat salah satu contoh sejarah paling tragis tentang error di otak ini.
Tragedi 9/11 di menara kembar WTC, New York. Ketika pesawat pertama menabrak Menara Utara, apa yang terjadi di Menara Selatan? Kita mungkin berpikir semua orang di Menara Selatan langsung berlari turun menyelamatkan diri.
Faktanya sangat menyayat hati. Laporan dari National Institute of Standards and Technology (NIST) menemukan bahwa banyak orang di Menara Selatan menunda evakuasi. Rata-rata mereka menunggu hingga enam menit sebelum bergerak. Beberapa saksi mata yang selamat bercerita bahwa rekan-rekan mereka menyempatkan diri mematikan komputer, melipat jaket dengan rapi, menelepon klien untuk membatalkan rapat, bahkan pergi ke toilet.
Sekali lagi, nyawa mereka sedang dalam bahaya besar. Puing-puing berjatuhan dan asap mulai mengepul. Tapi mereka malah melakukan rutinitas kantoran.
Apakah mereka orang-orang yang bodoh? Sama sekali tidak. Mereka adalah korban dari sebuah ilusi mematikan yang diciptakan oleh otak manusia. Ada sebuah "glitch" atau kecacatan sistem di otak kita saat menghadapi situasi krisis yang ekstrem. Pertanyaannya, ilusi macam apa yang bisa membuat manusia merapikan meja kerja saat gedung tempatnya berada sedang terbakar?
Inilah rahasia terbesarnya: ilusi itu bernama normalcy bias atau bias kenormalan.
Otak kita sebenarnya adalah mesin yang sangat malas. Ia membenci informasi baru karena memproses hal baru itu menguras banyak kalori. Jadi, otak lebih suka menggunakan heuristics atau jalan pintas mental.
Ketika situasi chaos terjadi, informasi yang masuk terlalu mengerikan dan di luar nalar. Otak kita tidak sanggup memprosesnya. Untuk melindungi kita dari guncangan mental yang hancur-hancuran, otak kita menciptakan kebohongan yang menenangkan. Otak kita secara agresif memaksa situasi kacau tersebut masuk ke dalam template keadaan normal.
"Ah, ini cuma latihan kebakaran."
"Suara ledakan tadi pasti cuma kembang api."
"Asap ini mungkin cuma dari dapur."
Jadi, kebalikan dari apa yang kita yakini selama ini, wujud kepanikan manusia yang paling umum bukanlah berteriak histeris. Wujud kepanikan terdalam manusia adalah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Kita melakukan aktivitas normal (seperti melipat jaket) sebagai jangkar psikologis untuk mempertahankan kewarasan kita di tengah dunia yang mendadak runtuh.
Memahami fakta ilmiah ini mungkin terasa sedikit meresahkan. Ternyata, kita tidak bisa sepenuhnya percaya pada otak kita sendiri saat krisis melanda. Tapi di sinilah letak indahnya ilmu pengetahuan, teman-teman. Mengetahui kelemahan ini adalah langkah pertama untuk menjadi lebih kuat.
Kita tidak bisa memecat amygdala dari otak kita. Namun, kita bisa melatih sang CEO, prefrontal cortex, agar tidak mudah ditendang keluar saat krisis. Caranya? Dengan simulasi dan kesadaran.
Ketika kita masuk ke bioskop atau pesawat, sempatkan lima detik untuk melihat di mana pintu darurat berada. Mainkan skenario what if (bagaimana jika) di kepala kita sesekali. Latihan kecil ini menciptakan semacam "folder memori darurat" di otak. Jadi, ketika kekacauan sungguhan datang, otak kita tidak perlu mencari jalan pintas yang salah. Ia sudah punya cetak birunya.
Terkadang, manusia memang rapuh. Adalah hal yang sangat manusiawi jika kita membeku atau menyangkal kenyataan saat tertimpa musibah tiba-tiba. Mari kita berikan empati yang luas, baik untuk orang lain maupun untuk diri kita sendiri, ketika insting itu mengambil alih.
Namun ke depannya, bila suatu saat alarm itu berbunyi sungguhan, saya harap tulisan ini akan melintas sejenak di ingatan kita. Memberi kita ekstra beberapa detik yang krusial untuk menyingkirkan kopi kita, berhenti berpura-pura normal, dan melangkah cerdas mencari jalan keluar.